كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ Blog ini saya buat sebagai counter attack atas propaganda murahan atas pemahaman yang salah kaprah tentang ajaran islam oleh sekte-sekte sempalan seperti wahabi syiah dll dan untuk kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semogga isi dari blog saya ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah atar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Rabu, 23 Mei 2012

Maksud Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid


Maksud Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid
Pertentangan WAHHABI/SALAFY utamanya BIN BAZZ terhadap ulama salaf bahkan terhadap al-Quran dan al-Hadits

(Tentang hadits :
لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nashoro yang telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid “ )

Benarkah hadits tersebut melarang dan mengharamkan sholat di sekitar kuburan dan membuat kuburan di dalam masjid sebagaimana dipahami oleh Ibnu Bazz dan para pentaqlid butanya ??

PENJELASAN :

• Asbabu wurudil hadits :

فقد قالت السيدة أم سلمة رضى الله تعالى عنها لرسول الله صلى الله عليه وسلم حين كانت فى بلاد الحبشة تقصد الهجرة إنها رأت أناسا يضعون صور صلحائهم وأنبيائهم ثم يصلون لها، عند إذن قال الرسول صلى الله عليه وسلم (لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور انبيائهم مساجد

“Ummu Salamah RA bercerita kepada Rasulullah Saw ketika dulu ia berada di Habasyah saat hendak Hijrah, bahwa dia pernah melihat beberapa orang yang meletakkan patung-patung orang sholih dan para Nabi mereka, kemudian mereka sholat kepada patung-patung tersebut. Maka bersabdalah Rasulullah Saw “ Allah melaknat orang Yahudi dan Nashoro yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid “.

• Mufradat :

اتخذ : جعل (Menjadikan)

قبر :مدفن الميت (Tempat pendaman mayat)

مسجد : الموضع الذي يُسجَد و يُتَعَبَّد فيِه (Tempat untuk bersujud dan beribadah di dalamnya)

Maka makna hadits tersebut dari sisi mufradatnya adalah :

جعلوا مدفن الانبياء موضعا اللذين يسجدون و يتعبدون فيه

“ Mereka menjadikan tempat pendaman mayat para Nabi sebagai tempat mereka bersujud dan beribadah di dalamnya “.

Dari sisi ini saja sudah bias kita pahami bahwa maksud yang shahih adalah mereka masuk ke dalam kubur atau berada di atas kubur bertujuan untuk menjadikan kuburan itu sebagai tempat sujud dan tempat beribadah. Dan inilah yang diperbuat orang Yahudi dan Nashoro.

Sedangkan umat Muslim, seorang pun sejak dulu hingga saat ini tak ada yang melakukan seperti itu. Apalagi mereka yang berziarah ke pada para wali sanga, tak ada satu pun yang menjadikan kuburan wali sanga yang mereka sujud di datas atau di dalamnya. Membawa hadits tersebut pada kaum muslimin saat ini yang berziyarah dan datang ke masjid-masjid yang disebelahny terdapat kuburan orang-orang sholeh, merupakan vonis yang salah sasaran dan sesat menyesatkan serta membuat fitnah yang akan memecah persatuan umat muslim.

Sekarang mari kita simak, apa pendapat para ulama besar Ahlus-sunnah terkait hadits di atas.

1.Pendapat imam Baidhowi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani :

ويقول الامام البيضاوى رحمه الله تعالى: فيما نقله عنه الحافظ ابن حجر العسقلانى وغيره من شراح السنن حيث قال البيضاوى: «لما كانت اليهود يسجدون لقبور الأنبياء؛ تعظيماً لشأنهم، ويجعلونها قبلة، ويتوجهون فى الصلاة نحوها فاتخذوها أوثاناً، لعنهم الله، ومنع المسلمين عن مثل ذلك، ونهاهم عنه، أما من اتخذ مسجداً بجوار صالح أو صلى فى مقبرته وقصد به الاستظهار بروحه، ووصول أثر من آثار عبادته إليه، لا التعظيم له، والتوجه فلا حرج عليه، ألا ترى أن مدفن إسماعيل فى المسجد الحرام ثم الحطيم؟ ثم إن ذلك المسجد أفضل مكان يتحرى المصلى بصلاته، والنهى عن الصلاة فى المقابر مختص بالمنبوشة لما فيها من النجاسة» انتهى. فتح البارى، شرح الزرقانى، فيض القدير

“ Imam Baidhawi berkata yang juga dinukil pendapat beliau oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani dan selainnya dari para penyarah kitab sunan-sunan : “ Ketika konon orang-orang Yahudi bersujud pada kuburan para nabi, karena pengagungan terhadap para nabi. Dan menjadikannya arah qiblat serta mereka pun sholat menghadap kuburan dan menjadikannya patung sesembahan, maka Allah melaknat mereka dan melarang umat muslim mencontohnya. Adapun orang yang MENJADIKAN MASJID DI SISI ORANG SHALIH atau SHOLAT DI PERKUBURANNYA DENGAN TUJUAN MENGHADIRKAN RUHNYA dan MENDAPATKAN BEKAS DARI IBADAHNYA, BUKAN KARENA PENGAGUNGAN DAN ARAH QIBLAT, MAKA TIDAKLAH MENGAPA. Tidakkah engkau melihat tempat pendaman nabi Ismail berada di dalam masjidil haram kemudian hathim ?? Kemudian masjidl haram tersebut merupaan tempat sholat yang sangat dianjurkan untuk melakukan sholat di dalamnya. Pelarangan sholat di perkuburan adalah tertentu pada kuburan yang terbongkar tanahnya karena terdapat najis “ (Fathul Bari, Syarh Zarqani dan Faidhul Qadir)

Dari pendapat imam Baidhawi yang juga dinukil oleh imam Ibnu Hajar al-Asqalani dan para imam yang menyarahkan kitab-kitab sunan, bias kita pahami bawha hadits tersebut mengandung :

-Larangan menjadikan kuburan sebagai tempat sujud / peribadatan
-Larangan menjadikan kuburan sebagai arah qiblat dari arah qiblat yang disyari’atkan

Dan kedua hal ini, Alhamdulillah tidak pernah dilakukan umat Muslim yang suka berziarah.

2. Pendpat imam Ibnu Abdul Barr :
وقال الإمام الحافظ ابن عبد البر رحمه الله تعالى فى “التّمهيد” «فى هذا الحديث إباحة الدّعاء على أهل الكُفر، وتحريم السّجود على قبور الأنبياء، وفى معنى هذا أنّه لا يحل السّجود لغير الله جل وعلا، ويحتمل الحديث أنْ لا تُجعل قبور الأنبياء قِبلة يُصلّى إليها. ثم قال ابن عبد البر: وقد زعـم قـوم أنّ فى هذا الحديث ما يدل على كراهيّة الصّلاة فى المقبرة وإلى المقبرة، وليـس فى ذلك حُجة

“ Imam Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr berkata di dalam kitab at-Tamhid “ Di dalam hadits tersebut terdapat :
- Pembolehan doa buruk pada orang kafir
- Pangharaman sujud terhadap kuburan para nabi
- Semakna juga terhadap pengharaman sujud terhadap selain Allah Swt
- Di arahkan juga terhadap pengharaman menjadikan kuburan para nabi sebagai arah qiblat sholat “.

Kemudian beliau juga berkata “ Sebagian kaum menyangka bahwa hadits tersebut mengandung pengertian yang memakruhkan sholat di pekuburan / pemakaman dan menghadap pekuburan, dan hadits itu bukanlah hujjah / dalil atas hal itu “.

3. Pendapat imam Al-Qadhi :

وقال القاضى فى فيض القدير على الجامع الصغير للامام المناوى «لما كانت اليهود يسجدون لقبور الأنبياء تعظيماً لشأنها ويجعلونها قبلة، ويتوجهون فى الصلاة نحوها فاتخذوها أوثاناً لعنهم الله ومنع المسلمين عن مثل ذلك، ونهاهم عنه. أما من اتخذ مسجداً بجوار صالح أو صلى فى مقبرة وقصد به الاستظهار بروحه، أو وصول أثر من آثار عبادته إليه لا التعظيم له، والتوجه نحوه فلا حرج عليه. ألا ترى أن مدفن إسماعيل فى المسجد الحرام عند الحطيم؟ ثم إن ذلك المسجد أفضل مكان يتحرى المصلى لصلاته. والنهى عن الصلاة فى المقابر مختص بالمنبوشة لما فيها من النجاسة». انتهى

“ Ketika konon orang-orang Yahudi bersujud pada kuburan para nabi, karena pengagungan terhadap para nabi. Dan menjadikannya arah qiblat serta mereka pun sholat menghadap kuburan dan menjadikannya patung sesembahan, maka Allah melaknat mereka dan melarang umat muslim mencontohnya. Adapun orang yang MENJADIKAN MASJID DI SISI ORANG SHALIH atau SHOLAT DI PERKUBURANNYA DENGAN TUJUAN MENGHADIRKAN RUHNYA dan MENDAPATKAN BEKAS DARI IBADAHNYA, BUKAN KARENA PENGAGUNGAN DAN ARAH QIBLAT, MAKA TIDAKLAH MENGAPA. Tidakkah engkau melihat tempat pendaman nabi Ismail berada di dalam masjidil haram kemudian hathim ?? Kemudian masjidl haram tersebut merupaan tempat sholat yang sangat dianjurkan untuk melakukan sholat di dalamnya. Pelarangan sholat di perkuburan adalah tertentu pada kuburan yang terbongkar tanahnya karena terdapat najis “ (Faidhul Qadir)

4. Pendapat Imam Ath-Thusi :

روى الشيخ الطوسي بأسناده عن معمر بن خلاد، عن الرضا ـ عليه السَّلام ـ قال: لا بأس بالصلاة بين المقابر ما لم يتخذ القبر قبلة

“ Syaikh Ath-Thusi Rh meriwayatkan dengan sanadnya dari Mu’ammar bin khallad dari Ridha As berkata “ Tidaklah mengapa sholat di antara pekuburan semenjak tidak menjadikan kuburan sebagai arah kiblat “ (Al-Wasail juz 1)

5. Pendapat imam Qurthubi :

قال القرطبي: روى الأئمة عن أبي مرصد الغنوي قال: سمعت رسول اللّه ـ صلَّى الله عليه وآله وسلم ـ يقول: لا تصلوا إلى القبور ولا تجلسوا إليها (لفظ مسلم) أي لا تتخذوها قبلة، فتصلوا عليها أو إليها كما فعل اليهود والنصارى

“ Imam Qurthubi berkata : “ Meriwayatkan para imam Hadits dari Abi Marshad al-ghanawi berkata; “ Aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda “ Janganlah kalian sholat kepada kuburan dan juga janganlah kalian duduk padanya (lafadz dalam hadits Muslim) “ Maksudnya adalah “ JANGANLAH KALIAN MENJADIKAN KUBURAN SEBAGAI ARAH QIBLAT, SEHINGGA KALIAN SHOLAT DI ATASNYA ATAU SHOLAT MENGHADAPNYA sebagaimana perbuatan orang Yahudi dan Nashoro “. (Tafsir Qurthubi juz 10 hal. 380)

Dan sekarang, marilah kita kembalikan pada al-Quran dan Hadits dari semua pendapat tersebut, manakah yang sesuai al-Quran dan Hadits ?

Ketika kita teliti dalam al-Quran justru tak ada satu pun ayat yang melarang sholat dipekuburan atau membangun kuburan di dalam masjid, bahkan sebaliknya kita akan temui kesesuain pendapat para ulama di atas dengan al-Quran dan bertentangnnya pendapat Ibnu Bazz serta para pentaqlid butanya dengan al-Quran.

Istidlal al-Quran :

1. 1. Allah Swt berfirman :

{ اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهاً وَاحِداً لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“ Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nashoro) sebagai tuhan selain Allah. Dan orang-orang Nashoro berkata “ dan juga Al-Masih putra maryam “. Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Mah Esa. Tidakada Tuhan selain Dia. Maha Dia dari apa yang mereka persekutukan “. (At-Taubah : 31)

Inilah makna sujud yang mendapat kecaman dan laknat, atau menjadikan arah qiblat selain qiblat yang disyare’atkan sebagaimana mereka (ahlul kitab) lakukan, mereka mengarah saat sembahyang dengan menghadap kuburan orang alim dan rahib-rahib mereka.

Dan realita yang ada dari apa yang dilakukan umat muslim di dalam masjid-masjid mereka tidaklah seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi dan nashoro. Maka mengarahkan hadits dan ayat tsb pada umat muslim sangatlah salah dan sesat dan merupakan perbuatan kaum khowarij. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Umar :

ذهبوا إلى آيات نزلت في المشركين، فجعلوها في المسلمين

“ Mereka kaum khawarij menjadikan ayat-ayat yang turun pada orang msuyrik diarahkan pada umat muslim “.

1. 2. Allah Swt berfirman :

وَاتَّخِذوا مِنْ مَقَامِ إبْرَاهِيمَ مُصَلّى

“ Dan jadikanlah maqam (tempat pijakan) Ibrahim sebagai tempat sholat “ (Al- Baqarah : 125)

Allah memrintahkan untuk menjadikan tempat pijakan Nabi Ibrahim sebagai tempat sholat, bukan berarti sholat terhadap pijakan nabi Ibrahim tersebut, namun sholat karena Allah dan menghadapt qiblat serta berada di maqam Ibrahim sebagai tabarrukan bukan ta’dziman atau sujudan lahu.

1. 3. Allah Swt berfirman :

وَكَذَلِكَ أعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أنَّ وَعْدَ اللّهِ حَقٌّ وَأنَّ السّاعَةَ لاَ رَيبَ فيها إذْ يَتنازَعُونَ بَيْنَهُم أمْرَهُم فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَاناً رَبُّهُم أعْلَمُ بِهِم قَالَ الّذينَ غَلَبُوا عَلَى أمْرِهِم لَنَتَّخِذَنّ عَلَيْهِم مَسْجداً

“ Dan demikianlah Kami perlihatkan (manusia) dengan mereka agar mereka tahu bahwa janji Allah benar dan bahwa hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika mereka berselisih tentang urusan mereka, maka mereka berkata “ Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka “. Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata “ Kami pasti akan mendirikan masjid di atas kuburan mereka “. (Al-Kahfi : 21)

Ayat ini jelas menceritakan dua kaum yang sedang berselisih mengenai makam ashabul kahfi. Kaum pertama berpendapat agar menjadikan sebuah rumah di atas kuburan mereka. Sedangkan kaum kedua berpendapat agar menjadikan masjid di atas kuburan mereka.

Kedua kaum tersebut bermaksud menghormati sejarah dan jejak mereka menurut manhajnya masing-masing. Para ulama Ahli Tafsir mengatakan bahwa kaum yang pertama adalah orang-orang msuyrik dan kaum yang kedua adalah orang-orang muslim yang mengesakan Allah Swt. Sebagaimana dikatakan juga oleh imam asy-Syaukani berikut :

يقول الإمام الشوكانى «ذِكر اتخاذ المسجد يُشعر بأنّ هؤلاء الذين غلبوا على أمرهم هم المسلمون، وقيل: هم أهل السلطان والملوك من القوم المذكورين، فإنهم الذين يغلبون على أمر من عداهم، والأوّل أولى». انتهى. ومعنى كلامه أن الأولى أن من قال ابنوا عليهم مسجدا هم المسلمون.

“ Imam Syaukani berkata “ Penyebutan menjadikan masjid dalam ayat tsb menunjukkan bahwa mereka yang menguasai urusan adalah orang-orang muslim. Ada juga yang berpendapat bahwa mereka adalah para penguasa dan raja dari kaum muslimin..”. Makna ucapan beliau adalah pendapat yang lebih utama adalah bahwa yang berkata bangunlah masjid di atas kuburan mereka adalah kaum muslimin “.

وقال الإمام الرازى فى تفسير ﴿لنتّخذنّ عليه مسجداً﴾ «نعبد الله فيه، ونستبقى آثار أصحاب الكهف بسبب ذلك المسجد». تفسير الرازى

Imam Ar-Razi di dalam tafisrnya berkata “ Kami akan menjadikan masjid di atasnya “ maknanya adalah “ Kami akan beribadah kepada Allah di dalam masjid tersebut dan kami akan memelihara bekas-bekas para pemuda ashabul kahfi dengan sebab masjid tersebut “.

Istidlal al-Hadits :

1. Nabi Saw bersabda :

أللّهمّ لا تجعل قبري وثناً، لعن اللّه قوماً اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“ Ya Allah, jangan jadikan kuburanku tempat sesembahan, semoga Allah melaknat kaum yang menjadikan kuburan para nabi sebgaia masjid “.

Ini adalah sebuah DOA NABI MUHAMMAD agar Allah tidak mnjadikan makam beliau sebagai tempat sesembahan atau masjid. Dan doa Nabio Saw tidak mungkin ditolak oleh Allah Swt. Karena terbukti hingga saat ini tidak ada satu pun kaum muslimin yang menyembah kuburan Nabi Saw.

2. روى مسلم في صحيحه عن النبي الأكرم أنّه قال حينما قالت أُم حبيبة وأُم سلمة بأنهما رأتا تصاوير في إحدى كنائس الحبشة: إنّ أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح فمات بنوا على قبره مسجداً، وصوروا فيه تلك الصورة أولئك شرار الخلق عند اللّه يوم القيامة

“ Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda ketika Ummu Habibah dan ummu Salamah berkata bahwa keduanya pernah melihat patung-patung di salah satu gereja Habasyah, “ Sesungguhnya mereka jika ada salah satu orang shalih yang wafat, maka mereka menjadikan kuburannya sebagai masjid dan membuat patungnya di dalamnya, merekalah seburuk-buruknya manusia di sisi Allah kelak di hari kiamat “.

Dalam hadits tersebut jelas bahwa yang divonis Rasul sebagai manusia terburuk adalah membuat patung yang ditegakkan di atas kuburan mereka dan mereka sembah / sujud patung tersebut. Inilah perbuatan orang nashoro saat itu. Sedangkan umat muslim sejak dulu hingga sekarang tak ada yang melakukan seperti apa yang mereka (Nashoro dan yahudi) lakukan.

KESIMPULAN :

Pemahaman ulama Salaf bahwa :

- Tidak mengapa sholat di dalam masjid yang terdapat makam nabi atau orang sholeh, bahkan itu disyare’atkan dan hal ini tidak masuk kecaman Nabi tentang menjadikan kuburan sebagai masjid, sungguh sangat jauh perbedaanya. Sebagaimana penjelsan di atas.

- Yang dilarang oleh nabi bahkan mendapat laknat adalah menjadikan kuburan nabi atau orang sholeh sebagai masjid yaitu bersujud padanya, adakalnya di atasnya atau di dalam kubur itu sendiri. Dan hal ini kita lihat sendiri umat muslim satu pun sejak dulu hingga sekrang tak ada yang melakukan sperti itu.

- Para ulama madzhab berbeda pendapat tentang sholat di area pekuburan atau pemakaman :

Madzhab Hanafiyyah mengatakan : makruh sholat di pemakaman sebab dikhawatirkan ada najis yang keluar dari kuburan, KECUALI jika di pemakaman tersebut disediakan tempat sholat, maka hilanglah hokum makruh.

Madzhab Malikiyyah mengatakan : Boleh sholat dipemakaman secara muthlaq, baik pekuburan itu bersih atau terbongkar (manbusyah), pekuburan muslim atau non muslim.

Madzhab Syafi’iyyah memerinci sebagai berikut :

Tidak sah sholat dipekuburan yang nyata ada kerusakan / keterbongkaran kuburan di dalamnya, karena telah bercampur tanah dengan nanah jenazah di situ. Ini jika tidak membuat penghakang seperti sajadah, jika memakai sajadah maka hukumnya makruh.

Adapun jika yakin tidak adanya bercampurnyanya nanah pada tanah pekuburan, maka hokum sholat di dalamnya sah tanpa khilaf. Karena tempatnya suci namun tetap makruh.

Madzhab Hanabilah mengatakan : Tidak sah sholat di pekuburan yang baru atau punyang lama, berulang-ulang pembongkarannya atau pun tidak. Namun tidak mengapa sholat di area yang ada satu atau dua kuburan, karena yang namnya pekuburan adalah terdapat tiga kuburan atau lebih.

Bahkan ada nash dari madzhab ini bahwa setiap apa yang masuk kategori maqbarah adalah tidak boleh melakukan sholat di dalamnya. Mereka juga menetapkan bahwa tidak mengapa sholat di dalam rumah yang terdapat kuburan di dalamnya walaupun lebih dari tiga kuburan, karena ini bukan dinamakan maqbarah.

Dan hal ini adalah masalah furu’ / cabang agama.

Jika Salafi wahhabi termasuk Ibn Bazz dan para pentaqlid butanya mengatakan haram, syirik bahkan kufur pada kaum muslimin yang sholat di dalam masjid yang terdapat makam nabi atau orang sholeh, maka kami katakana pada mereka :

Kalau itu pemahaman kalian, maka beranikah kalian menghancurkan Masjid Nabawi ?? “

Jika kalian berkata “ Kami tidak berani karena di situ ada makam Nabi “

Kami jawab “ Jika kalian menghkususkan makam Nabi, maka di situ juga ada makam sahabat Nabi Saw, beranikah kalian menghancurkan atau memindahkan makam kedua sahabat Nabi Saw tersebut ??

Dan bahkan umat msulim sholat di sekitar makam-makam tersebut…!!”

Salafi wahhabi utamanya Ibn Bazz mengaku sebagai pengikut salaf, sedangkan ulama salaf tidak seperti pemahaman mereka bahkan bertentangan dengan mereka, lalu siapakah salaf yang kalian ikuti ??

Para ulama mengajarkan kepada umat Islam agar selalu mendo'akan keluarganya yang telah meninggal dunia


Para ulama mengajarkan kepada umat Islam agar selalu mendo'akan keluarganya yang telah meninggal dunia selama 7 hari berturut-turut.....

Telah banyak beredar dari kalangan salafi wahhabi yang menyatakan bahwa tradisi tahlilan sampai tujuh hari diadopsi dari adat kepercayaan agama Hindu. Benarkah anggapan dan asumsi mereka ini?
Sungguh anggapan mereka salah besar dan vonis yang tidak berdasar sama sekali. Justru ternyata tradisi tahlilan selama tujuh hari dengan menghidangkan makanan, merupakan tradisi para sahabat Nabi Muhammad Saw dan para tabi’in.

Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ahli hadits kenamaan mengatakan bahwa beliau mendapatkan riwayat dari Hasyim bin al-Qasim, yang mana beliau meriwayatkan dari Al-Asyja’i, yang beliau sendiri mendengar dari Sofyan, bahwa Imam Thawus bin Kaisan radliyallahu ‘anhu pernah berkata :

إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا، فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام

“Sesungguhnya orang mati difitnah (diuji dengan pertanyaan malaikat) didalam quburnya selama 7 hari, dan “mereka” menganjurkan (mensunnahkan) agar memberikan makan (pahalanya) untuk yang meninggal selama 7 hari tersebut”.

Riwayat ini sebutkan oleh Imam Ahmad Ahmad bin Hanbal didalam az-Zuhd [1]. Imam Abu Nu’aim al-Ashbahani (w. 430 H) juga menyebutkannya didalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiyah.[2] Sedangkan Thawus bin Kaisan al-Haulani al-Yamani adalah seorang tabi’in (w. 106 H) ahli zuhud, salah satu Imam yang paling luas keilmuannya. [3] Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974) dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubraa dan Imam al-Hafidz as-Suyuthi (w. 911 H) dalam al-Hawil lil-Fatawi mengatakan bahwa dalam riwayat diatas mengandung pengertian bahwa kaum Muslimin telah melakukannya pada masa Rasulullah, sedangkan Rasulullah mengetahui dan taqrir terhadap perkara tersebut. Dikatakan (qil) juga bahwa para sahabat melakukannya namun tidak sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Atas hal ini kemudian dikatakan bahwa khabar ini berasal dari seluruh sahabat maka jadilah itu sebagai Ijma’, dikatakan (qil) hanya sebagian shahabat saja, dan masyhur dimasa mereka tanpa ada yang mengingkarinya. [4]

Ini merupakan anjuran (kesunnahan) untuk mengasihi (merahmati) mayyit yang baru meninggal selama dalam ujian didalam kuburnya dengan cara melakukan kenduri shadaqah makan selama 7 hari yang pahalanya untuk mayyit. Kegiatan ini telah dilakukan oleh para sahabat, difatwakan oleh mereka. Sedangkan ulama telah berijma’ bahwa pahala hal semacam itu sampai dan bermanfaat bagi mayyit.[5] Kegiatan semacam ini juga berlangsung pada masa berikutnya, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Hafidz as-Suyuthiy ;

“Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai kepadaku (al-Hafidz) bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan sampai sekarang (masa al-Hafidz) di Makkah dan Madinah. Maka secara dhahir, amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga generasai awal Islam. Dan didalam kitab-kitab tarikh ketika menuturkan tentang para Imam, mereka mengatakan “manusia (umat Islam) menegakkan amalan diatas kuburnya selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an’. [6]

Shadaqah seperti yang dilakukan diatas berlandaskan hadits Nabi yang banyak disebutkan dalam berbagai riwayat. [7] Lebih jauh lagi dalam hadits mauquf dari Sayyidina Umar bin Khaththab, disebutkan dalam al-Mathalib al-‘Aliyah (5/328) lil-Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852) sebagai berikut :

قال أحمد بن منيع حدثنا يزيد بن هارون حدثنا حماد بن سلمة عن علي بن زيد عن الحسن عن الحنف بن قيس قال كنت أسمع عمر رَضِيَ الله عَنْه يقول لا يدخل أحد من قريش في باب إلا دخل معه ناس فلا أدري ما تأويل قوله حتى طعن عمر رَضِيَ الله عَنْه فأمر صهيبا رَضِيَ الله عَنْه أن يصلي بالناس ثلاثا وأمر أن يجعل للناس طعاماً فلما رجعوا من الجنازة جاؤوا وقد وضعت الموائد فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه فجاء العباس بن عبد المطلب رَضِيَ الله عَنْه فقال يا أيها الناس قد مات الحديث وسيأتي إن شاء الله تعالى بتمامه في مناقب عمر رَضِيَ الله عَنْه

“Ahmad bin Mani’ berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ali bin Zayd, dari al-Hasan, dari al-Ahnaf bin Qays, ia berkata : aku pernah mendengar ‘Umar radliyallahu ‘anh mengatakan, seseorang dari Quraisy tidak akan masuk pada sebuah pintu kecuali seseorang masuk menyertainya, maka aku tidak mengerti apa yang maksud perkataannya sampai ‘Umar radliyallahu ‘anh di tikam, maka beliau memerintahkan Shuhaib radliyallahu ‘anh agar shalat bersama manusia selama tiga hari, dan juga memerintahkan agar membuatkan makanan untuk manusia. Setelah mereka kembali (pulang) dari mengantar jenazah, dan sungguh makanan telah dihidangkan, maka manusia tidak mau memakannya karena sedih mereka pada saat itu, maka sayyidina ‘Abbas bin Abdul Muththalib radliyallahu ‘anh datang, kemudian berkata ; wahai.. manusia sungguh telah wafat .. (al-hadits), dan InsyaAllah selengkapnya dalam Manaqib ‘Umar radliyallah ‘anh”.

Hikmah dari hadits ini adalah bahwa adat-istiadat amalan seperti Tahlilan bukan murni dari bangsa Indonesia, melainkan sudah pernah dicontohkan sejak masa sahabat, serta para masa tabi’in dan seterusnya. Karena sudah pernah dicontohkan inilah maka kebiasaan tersebut masih ada hingga kini.

Riwayat diatas juga disebutkan dengan lengkap dalam beberapa kitab antara lain Ithaful Khiyarah (2/509) lil-Imam Syihabuddin Ahmad bin Abi Bakar al-Bushiriy al-Kinani (w. 840).

وعن الأحنف بن قيس قال: “كنت أسمع عمر بن الحنطاب- رضي الله عنه- يقول: لا يدخل رجل من قريش في باب إلا دخل معه ناس. فلا أدري ما تأويل قوله، حتى طعن عمر فأمر صهيبا أن يصلي بالناس ثلاثا، وأمر بأن يجعل للناس طعاما، فلما رجعوا من الجنازة جاءوا وقد وضعت الموائد فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه، فجاء العباس بن عبد المطلب قال: يا أيها الناس، قد مات رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فأكلنا بعده وشربنا، ومات أبو بكر فأكلنا بعده وشربنا، أيها الناس كلوا من هذا الطعام. فمد يده ومد الناس أيديهم فأكلوا، فعرفت تأويل قوله “.رواه أحمد بن منيع بسند فيه علي بن زيد بن جدعان

“Dan dari al-Ahnaf bin Qays, ia berkata : aku mendengar ‘Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anh mengatakan, seseorang dari Quraisy tidak akan masuk pada sebuah pintu kecuali manusia masuk bersamanya. Maka aku tidak maksud dari perkataannya, sampai ‘Umar di tikam kemudian memerintahkan kepada Shuhaib agar shalat bersama manusia dan membuatkan makanan hidangan makan untuk manusia selama tiga hari. Ketika mereka telah kembali dari mengantar jenazah, mereka datang dan sungguh makanan telah dihidangkan namun mereka tidak menyentuhnya karena kesedihan pada diri mereka. Maka datanglah sayyidina ‘Abbas bin Abdul Muththalib, seraya berkata : “wahai manusia, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah wafat, dan kita semua makan dan minum setelahnya, Abu Bakar juga telah wafat dan kita makan serta minum setelahnya, wahai manusia.. makanlah oleh kalian dari makanan ini, maka sayyidina ‘Abbas mengulurkan tanggan (mengambil makanan), diikuti oleh yang lainnya kemudian mereka semua makan. Maka aku (al-Ahnaf) mengetahui maksud dari perkataannya. Ahmad bin Mani telah meriwayatkannya dengan sanad didalamnya yakni ‘Ali bin Zayd bin Jud’an”.

Disebutkan juga Majma’ az-Zawaid wa Manba’ul Fawaid (5/159) lil-Imam Nuruddin bin ‘Ali al-Haitsami (w. 807 H), dikatakan bahwa Imam ath-Thabrani telah meriwayatkannya, dan didalamnya ada ‘Ali bin Zayd, dan haditsnya hasan serta rijal-rijalnya shahih ; Kanzul ‘Ummal fiy Sunanil Aqwal wa al-Af’al lil-Imam ‘Alauddin ‘Ali al-Qadiriy asy-Syadili (w. 975 H) ; Thabaqat al-Kubra (4/21) lil-Imam Ibni Sa’ad (w. 230 H) ; Ma’rifatu wa at-Tarikh (1/110) lil-Imam Abu Yusuf al-Farisi al-Fasawi (w. 277 H) ; Tarikh Baghdad (14/320) lil-Imam Abu Bakar Ahmad al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H).

Imam Suyuthi Rahimahullah dalam kitab Al-Hawi li al-Fatawi-nya mengtakan :

قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام

“ Thowus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “.

Sementara dalam riwayat lain :

عن عبيد بن عمير قال : يفتن رجلان مؤمن ومنافق, فاما المؤمن فيفتن سبعا واماالمنافق فيفتن اربعين صباحا

“ Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari “.

Dalam menjelaskan dua atsar tersebut imam Suyuthi menyatakan bahwa dari sisi riwayat, para perawi atsar Thowus termasuk kategori perawi hadits-hadits shohih.
Thowus yang wafat tahun 110 H sendiri dikenal sebagai salah seorang generasi pertama ulama negeri Yaman dan pemuka para tabi’in yang sempat menjumpai lima puluh orang sahabat Nabi Saw. Sedangkan Ubaid bin Umair yang wafat tahun 78 H yang dimaksud adalah al-Laitsi yaitu seorang ahli mauidhoh hasanah pertama di kota Makkah dalam masa pemerintahan Umar bin Khoththob Ra.

Menurut imam Muslim beliau dilahirkan di zaman Nabi Saw bahkan menurut versi lain disebutkan bahwa beliau sempat melihat Nabi Saw. Maka berdasarkan pendapat ini beliau termasuk salah seorang sahabat Nabi Saw.

Sementara bila ditinjau dalam sisi diroyahnya, sebgaimana kaidah yang diakui ulama ushul dan ulama hadits bahwa: “Setiap riwayat seorang sahabat Nabi Saw yang ma ruwiya mimma la al-majalla ar-ra’yi fiih (yang tidak bisa diijtihadi), semisal alam barzakh dan akherat, maka itu hukumnya adalah Marfu’ (riwayat yang sampai pada Nabi Saw), bukan Mauquf (riwayat yang terhenti pada sahabat dan tidak sampai kepada Nabi Saw).

Menurut ulama ushul dan hadits, makna ucapan Thowus ;

ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام

berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “, adalah para sahabat Nabi Saw telah melakukannya dan dilihat serta diakui keabsahannya oleh Nabi Saw sendiri.

(al-Hawi) li al-Fatawi, juz III hlm. 266-273, Imam As-Suyuthi).

Maka tradisi bersedekah selama mitung dino / tujuh hari atau empat puluh hari pasca kematian, merupakan warisan budaya dari para tabi’in dan sahabat Nabi Saw, bahkan telah dilihat dan diakui keabsahannya pula oleh beliau Nabi Muhammad Saw.

Wallahu A’lam.

[1] Lihat : Syarah ash-Shudur bisyarhi Hal al-Mautaa wal Qubur ; Syarah a-Suyuthi ‘alaa Shahih Muslim, Hasyiyah as-Suyuthi ‘alaa Sunan an-Nasaa’i dan al-Hafi lil-Fatawi lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi ; Lawami’ al-Anwar al-Bahiyyah (2/9) lil-Imam Syamsuddin Muhammad as-Safarainy al-Hanbali (w. 1188 H) ; Sairus Salafush Shalihin (1/827) lil-Imam Isma’il bin Muhammad al-Ashbahani (w. 535 H) ; Imam al-Hafidz Hajar al-Asqalani (w. 852 H) didalam al-Mathalibul ‘Aliyah (834).

[2] Lihat : Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiyaa’ lil-Imam Abu Nu’aim al-Ashbahaniy : “menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Malik, menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, menceritakan kepada kami ayahku (Ahmad bin Hanbal), menceritakan kepada kami Hisyam bin al-Qasim, menceritakan kepada kami al-Asyja’iy, dari Sufyan, ia berkata : Thawus telah berkata : “sesungguhnya orang mati di fitnah (diuji oleh malaikat) didalam kuburnya selama 7 hari, maka ‘mereka’ menganjurkan untuk melakukan kenduri shadaqah makan yang pahalanya untuk mayyit selama 7 hari tersebut”.

[3] Lihat : al-Wafi bil Wafiyaat (16/236) lil-Imam ash-Shafadi (w. 764 H), disebutkan bahwa ‘Amru bin Dinar berkata : “aku tidak pernah melihat yang seperti Thawus”. Dalam at-Thabaqat al-Kubra li-Ibni Sa’ad (w. 230 H), Qays bin Sa’ad berkata ; “Thawus bagi kami seperti Ibnu Siirin (sahabat) bagi kalian”.

[4] Lihat ; al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra (2/30-31) lil-Imam Syihabuddin Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami ; al-Hawi al-Fatawi (2/169) lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthiy

Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yang Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yang telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul shallallahu ‘alayhi wa sallam”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yang telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad”
(Shahih Muslim hadits no.1967).

Dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yang memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’i mengatakan pahalanya tak sampai.

Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pada Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yang menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya).

Mengenai ayat :

وَأَن لَّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاَّ مَا سعى

“dan bahwasanya tiada bagi manusia selain apa yang telah diusahakannya,” (QS. an-Najm : 39)

Maka Ibn Abbas rodliyallahu ‘anh menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dengan ayat,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka...
(QS. ath-Thuur 52 : 21)”.

Mengenai hadits yang mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anaknya yang berdoa untuknya, maka orang orang lain yang mengirim amal, dzikir dan lain-lain untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yang dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al-Qur'an untuk mendoakan orang yang telah wafat :

والذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رءوف رحيم

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."
(QS. al-Hasyr 59 ; 10)

Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yang memungkirinya, siapa pula yang memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yang tak suka dengan dzikir.

Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yang merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yang ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yang berpuasa pada hari 10 muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula”
(HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).

Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah fatihah maka ia membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat al ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al-ikhlas akan membuatmu masuk sorg.
(Shahih Bukhari).

Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tersebut dari ajaran Rasul saw, ia membuat buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al Ikhlas, maka Rasul shallalahu ‘alayhi wa sallam tak melarangnya bahkan memujinya.

Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu ahli hadits yang telah hafal 100.000 hadits (seratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya) dan para Imam imam mengirim hadiah pada Rasul shallallahu ‘alayhi wa sallam :

Berkata Imam al-Hafidz al-Muhaddits Ali bin al-Muwaffiq rahimahullah : “aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam”.
Berkata al-Imam al-Hafidz al-Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : “aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yang pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur’an untuk Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam”.
Ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia menyimpan 70 ribu masalah yang dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada 313 H.
Berkata Al-Imam Al-Hafidz Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw.
(Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111)

ALLAH ADA TANPA TEMPAT ARAH


ALLAH ADA TANPA TEMPAT ARAH..
الرحمن على العرش استوى
Ayat ini menunjukkan beberapa faidah :
Allah mengkhabarkan dirinya istawa atas arsy
Jika khabar itu datangnya dari selain Allah dan RosulNya, maka ada kalanya benar ada kalanya salah.

Adapun ayat diatas, nyata kebenaran nya.
jadi namanya bukan khabar, tapi insya.
Insya terbagi 2, ada tholabi dan ghoiru tholabi
Dalam ayat di atas tidak ada tholab, tapi kalau diteliti lebih dalam ada beberapa tholab didalam nya....

Contohnya begini
الرحمن على العرش استوى

1. Amar.... Allah mengkhabarkan bahwa diriNya istawa diatas arsy, karena itu isi ayat ini wallahu a'lam. suruhan percaya bahwa Allah istawa atas arsy.

2. Nahyun.... dalam zhahir ayat memang jelas istawa, dan kita harus percaya itu.
tetapi kita dilarang mempercayainya dgn takwil2 yg tidak cocok dgn Allah apalagi sampay menjadi mujassimah musyabbihah.

3. Istifham..... jgn sampai tergambar dihati kita pertanyaan seperti ini, apakah benar Allah itu istiwa ya....?

Pokoknya jgn sampay ada keraguan dgn ayat Alquran

Dalam ayat diatas juga ada takdim ta'khir

Ayat ini banyak sekali di ulang dalam Alquran, kebanyakan nya didahulu kan kalimat istawa nya.
seperti dalam syuroh Alfurqon.

Kenapa dalam thoha ini diakhirkan istawanya......?
Alasan paling utama adalah untuk menyamakan akhir ayat.
Ayat lain di furqon.

ثم استوى على العرش الرحمن

Ayat di thoha.
الرحمن على العرش استوى

Contoh lain
Di ayat lain smuanya didahulukan nama Nabi Musa dari Nabi Harun.

رب موسى وهارون
Adapun di thoha
رب هارون وموسى

Dari sini dapat kita fahami bahwa istawa itu di akhirkan untuk penyamaan akhir ayat saja, dan ini sesuai dgn ilmu BADII' yaitu pembagusan ibarat, Lil fashilah.

Mungkin saja ada faidah lain pada takdim ta'khirnya, misalnya ayat ini kan terulang2 didlm beberapa syuroh lain.
naaah mungkin si pendengar ini (orang2 kafir) mengingkari kekuasaan Allah dalam membangkitkan semua manusia nanti di hari kiamat, lalu Allah katakan kepada mereka dgn berulang2.
bahwa Dia kuasa menciptakan langit bumi dan arsy.
Artinya mudah banget untuk Allah mengembalikan semua makhluq nanti hari kiamat.

Atau mungkin juga takdim ta'khir disini untuk mentakhsish.
Dan kenapa disini dibawa ibarat dgn Arrahman yaitu sifat, bukan Allah yaitu dzat.
Artinya istawa Allah di arsy itu bukan haqiqat, tapi majaz.
Menurutku disini adalah MAJAZ MUROKKAB.

الرحمن على العرش استوى

Ayat ini adalah khabariah, tapi karna datangnya dari Allah maka menjadi insya'iyah, jadi disini maksudnya Allah bukan mengkhabarkan bahwa Dia bersemayam di arsy, tapi Dia mau menampakkan kekuasaaNya.

كما قال علي : إظهارا لقدرته لا مكانا لذاته

الرحمن على العرش استوى

Pada kaif dan kamm nya, ayat ini tidak bisa di nafikan dari beberapa sisi qadhiyah dan natijah, tidak bisa setengah2, harus secara keseluruhan di imani dan jgn ada keraguan untuk supaya keselamatan aja cukup dgn TAFWIDH.

Karna pada muqaddam dan taalinya hubungan nya sangat kuat.
Kalau tidak kita TAFWIDH maka akan bahaya. contohnya pada sebuah muqaddam dan taalinya,
Allah bersemayam di arsy, setiap yang bersemayam dibatasi oleh tempat dan ruang, setiap yg punya tempat dan ruang, maka itu baharu, natijah nya Allah itu baharu.

Lalu pada dalalah iltizam nya,setiap yg baharu itu melazimi mati, berhajat kepada sesuatu, berwarna2 dll yg tidak layak untuk Allah.
Ini adalah takwil sesat yg dilakukan para wahabi. mahluk menuhankan mahluk hehe...

Padahal dalalah yg cocok untuk Allah sdh diterangkan didalam Alquran
ليس كمثله شيء

Dalalah kandungan ayat ini melazimkan Allah tidak sama dgn makhluq dalam sifat, dzat dan af'al.

Jadi intinya ayat
الرحمن على العرش استوى

Jika untuk kalangan yg rasikh dalam ilmu, cukup di tafwidh saja.
karna mereka ini sdh tau faidah yg terkandung didalam khabar ini, untuk mereka di namakan lazimul faidah

Tapi jika menimbulkan tasyabbuh kepada orang awam, maka harus di takwilkan dgn yg sesuai untuk Allah.

Karena ayat ini untuk orang awam masih belum sampai kepada muqtadhol hal mereka untuk mendapatkan lazim faidah khabariah insya-iyahnya.

Firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Imam asy-Syafi’i rahimahullah menegaskan secara memberikan nasehat kepada kaum Muslimin dengan berkata berkata:

إن هذه الآية من المتشابهات، والذي نختار من الجواب عنها وعن أمثالها لمن لا يريد التبحر في العلم أن يمر بها كما جاءت ولا يبحث عنها ولا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع في ورطة التشبيه إذا لم يكن راسخا في العلم، ويجب أن يعتقد في صفات الباري تعالى ما ذكرناه، وأنه لا يحويه مكان ولا يجري عليه زمان، منزه عن الحدود والنهايات مستغن عن المكان والجهات، ويتخلص من المهالك والشبهات (الفقه الأكبر، ص 13)

“Ini termasuk ayat mutasyâbihât. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak --secara mendetail-- membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybîh. Kewajiban atas orang ini --dan semua orang Islam-- adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h.13). Agil Adianda Putra
oke.... saya tidak da maslah dr perkataan imam syafi'i yg ust utarakan...

oke.... saya pun tidak pernah mngtakan klw Allah bertempat,,,

Imam Abu hanifah:

لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه

Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah, muka surat 1.

IMAM ABU HANIFAH TOLAK AKIDAH SESAT “ ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK/BERTEMPAT ATAS ARASY.

Demikian dibawah ini teks terjemahan nas Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan di atas) :

“ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’al ber istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat.

Amat jelas di atas bahawa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.

Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadat kembali kepada Islam

Imam Syafi'i

انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير

Maknanya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 muka surat 23

Imam Ahmad bin Hanbal :

-استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر

Maknanya: Dia (Allah) istawa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifae dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.

وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه

Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahawa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya(Imam Ahmad) Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami

Imam Malik :

الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة

Maknannya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif(bentuk) tidak diterima aqal, dan iman dengannya wajib, dan soal tentangnya bidaah.

lihat disini : imam malik hanya menulis kata istiwa (لاستواء) bukan memberikan makna dhahir jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar).

1- Tafsir al Qurtubi

(ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan

2- Tafsir al-Jalalain

(ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya

3- Tafsir an-Nasafi Maknanya:

makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran , tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulamak Ahlu Sunnah yang lain…

4- Tafsir Ibnu Kathir , darussalam -riyadh, Jilid 2 , halaman 657, surat ara’ad ayat 2):

(ثم استوى على العرش ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al Araf, sesungguhnya ia ditafsirkan sebagaimana lafadznya yang datang (tanpa memrincikan maknanya) tanpa kaifiat(bentuk) dan penyamaan, tanpa permisalan, maha tinggi

Disini Ibnu Katsir mengunakan ta’wil ijtimalliy iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya.

II. Makna istiwa yang dikenal dalam bahasa arab dan dalam kitab-kitab Ulama salaf

Di dalam kamus-kamus arab yang ditulis oleh ulama’ Ahlu Sunnah telah menjelaskan istiwa datang dengan banyak makna, diantaranya:

1-masak (boleh di makan) contoh:

قد استوى الطعام—–قد استوى التفاح maknanya: makanan telah masak—buah epal telah masak

2- التمام: sempurna, lengkap

3- الاعتدال : lurus

4- جلس: duduk / bersemayam,

contoh: – استوى الطالب على الكرسي : pelajar duduk atas kerusi -استوى الملك على السرير : raja bersemayam di atas katil

5- استولى : menguasai,

contoh: قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق

Maknanya: Bisyr telah menguasai Iraq, tanpa menggunakan pedang dan penumpahan darah.

Al Hafiz Abu Bakar bin Arabi telah menjelaskan istiwa mempunyai hampir 15 makna, diantaranya: tetap,sempurna lurus menguasai, tinggi dan lain-lain lagi, dan banyak lagi maknannya. Sila rujuk qamus misbahul munir, mukhtar al-Sihah, lisanul arab, mukjam al-Buldan, dan banyak lagi. Yang menjadi masalahnya, kenapa si penulis memilih makna bersemayam. Adakah makna bersemayam itu layak bagi Allah?, apakah dia tidak tahu bersemayam itu adalah sifat makhluk? Adakah si penulis ini tidak mengatahui bahawa siapa yang menyamakan Allah dengan salah satu sifat daripada sifat makhluk maka dia telah kafir?

sepertimana kata salah seorang ulama’ Salaf Imam at Tohawi (wafat 321 hijrah):

ومن وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر

Maknanya: barang siapa yang menyifatkan Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kafir. Kemudian ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah telah menafsirkan istiwa yang terkandung di dalam Al quran dengan makna menguasai arasy kerana arasy adalah makhluk yang paling besar, oleh itu ia disebutkan dalam al Quran untuk menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala sepertimana kata-kata Saidina Ali yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh:

ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته ولم يتخذه مكان لذاته

Maknanya: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-arasy untuk menzohirkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan ia tempat bagi Nya.

Imam asy-Syafi’i Muhammad ibn Idris (w 204 H), seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Syafi’i, berkata:
ﺇﻧﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻛﺎﻥ ﻭﻻ ﻣﻜﺎﻥ ﻓﺨﻠﻖ
ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭﻫﻮ ﻋﻠﻰ ﺻﻔﺔ ﺍﻷﺯﻟﻴﺔ ﻛﻤﺎ
ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻞ ﺧﻠﻘﻪ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻋﻠﻴﻪ
ﺍﻟﺘﻐﻴﺮ ﻓﻲ ﺫﺍﺗﻪ ﻭﻻ ﺍﻟﺘﺒﺪﻳﻞ ﻓﻲ ﺻﻔﺎﺗﻪ

(ﺇﺗﺤﺎﻑ ﺍﻟﺴﺎﺩﺓ ﺍﻟﻤﺘﻘﻴﻦ ﺑﺸﺮﺡ ﺇﺣﻴﺎﺀ
ﻋﻠﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ, ﺝ 2، ﺹ 24 )

Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat.
Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat2Nya yang Azali.
sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat2Nya
(LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j.2, h.24).

Dalam salah satu kitab karnya, al-Fiqh al-Akbar
[selain Imam Abu Hanifah; Imam asy-Syafi'i juga
menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar],

Sahabat Nabi yang bernama Sa’ad bin Mu’adz di lahirkan di madinah 32 tahun sebelum hijrah Nabi.
Yaitu perkiraan tahun 590 M.
Beliau memeluk agama islam pada usia 31 thn ditangan Mash’ab bin ‘umair pada tahun 1 H.
atau 622 M. dalam riwayat lain beliau masuk islam sebelum hijrah Nabi. Wallahu a’lam.
Dalam buku buku sejarah disebutkan bahwa beliau mempunyai postur tubuh tinggi, gemuk dan kekar dan berkulit putih.
Beliau adalah seorang pahlawan dalam perang Badar, Uhud dan Khandak.
Namun akhirnya1 bulan setelah perang khandak beliau tutup usia karena pendarahan yang dideritanya akibat luka anak panah yang mengenai pembuluh darahnya.
Beliau meninggal dunia di Madinah dalam usia 37 pada tahun 5H atau 627M.
Nabi Muhammad Saw memimpin sholatnya dan dikebumikan di area pemakaman suci madinah, yaitu Jannatul Baqi’ Al-Ghorqod.

Berikut hadits yang merekam beliau saat meninggal dunia:

1. Rafi` al-Zargi menceritakan bahwa salah seorang kaumnya memberitahu bahwa Jibril telah mendatangi Nabi Saw di tengah malam dengan mengenakan ikat kepala dari sutra tebal, lalu Jibril bertanya.
Jenazah siapa gerangan yang telah membuka pintu langit dan menggoncangkan Arsy?
Beliau segera berdiri menemui Sa'ad bin Mu'adz dan menemukannya telah gugur.

2. Dalam riwayat lain Hasan Al-Bashri berkata, Sa'ad bin Mu`adz telah menggoncangkan 'Arsy Zat Yang Maha Pengasih, karena gembira dengan kedatangan ruhnya.
(Kedua riwayat ini diceritakan oleh Al-Baihaqi).

3. Sayyidah Aisyah bercerita, bahwa Nabi pernah berkata. Seandainya ada orang yang selamat dari himpitan kubur, niscaya Sa’ad lah orangnya.

4. Dan juga mutawatir dari Nabi, yaitu.
Sesungguhnya Arsy bergetar dikarenakan kematian si Sa’ad, karna gembira menyambut kedatangan ruhnya.
(HR. Bukhari *manaqibul anshor*-Muslim *fadhoilus shohabah*-Tirmidzi *fi manaqib*-Ibnu majjah *moqddimah*).

5. Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Jibril tiba-tiba menemui Nabi Saw lalu bertanya, "Siapakah hamba sholih yang meninggal sehingga pintu-pintu langit terbuka dan `Arsy terguncang?
Nabi kemudian keluar, ternyata Sa'ad bin Mu`adz telah wafat (saat itu). Kemudian nabi duduk disisi kuburannya.
(HR. Ahmad, Al hakim, Baihaqi, Nasa’i).

Imam asy-Syafi’i berkata:

ﻭﺍﻋﻠﻤﻮﺍ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻻ ﻣﻜﺎﻥ ﻟﻪ،
ﻭﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻫﻮ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻛﺎﻥ
ﻭﻻ ﻣﻜﺎﻥ ﻟﻪ ﻓﺨﻠﻖ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭﻫﻮ ﻋﻠﻰ
ﺻﻔﺘﻪ ﺍﻷﺯﻟﻴﺔ ﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻞ ﺧﻠﻘﻪ
ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ، ﺇﺫ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺘﻐﻴﺮ ﻓﻲ
ﺫﺍﺗﻪ ﻭﻻ ﺍﻟﺘﺒﺪﻳﻞ ﻓﻲ ﺻﻔﺎﺗﻪ، ﻭﻷﻥ ﻣﻦ
ﻟﻪ ﻣﻜﺎﻥ ﻓﻠﻪ ﺗﺤﺖ، ﻭﻣﻦ ﻟﻪ ﺗﺤﺖ
ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺘﻨﺎﻫﻲ ﺍﻟﺬﺍﺕ ﻣﺤﺪﻭﺩﺍ ﻭﺍﻟﺤﺪﻭﺩ
ﻣﺨﻠﻮﻕ، ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻮﺍ
ﻛﺒﻴﺮﺍ، ﻭﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﺍﺳﺘﺤﺎﻝ ﻋﻠﻴﻪ
ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﺘﻢ ﺇﻻ
ﺑﺎﻟﻤﺒﺎﺷﺮﺓ ﻭﺍﻻﺗﺼﺎﻝ ﻭﺍﻻﻧﻔﺼﺎﻝ

(ﺍﻟﻔﻘﻪ ﺍﻷﻛﺒﺮ، ﺹ13 )

Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat.
Dalil atas ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan
dan tanpa tempat.
Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali.
sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat2Nya.
Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian
maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah Dia merupakan makhluk.
Allah Maha Suci dari pada itu semua.
Karena itu pula mustahil atasNya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi2 dan terpisah2.
Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah.
Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang
mustahil.
(al-Fiqh al-Akbar, h.13).
Pada bagian lain dalam kitab
yang sama tentang firman Allah
QS. Thaha: 5
(ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa).

Imam asy-Syafi’i berkata:

ﺇﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺘﺸﺎﺑﻬﺎﺕ، ﻭﺍﻟﺬﻱ
ﻧﺨﺘﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ﻋﻨﻬﺎ ﻭﻋﻦ ﺃﻣﺜﺎﻟﻬﺎ
ﻟﻤﻦ ﻻ ﻳﺮﻳﺪ ﺍﻟﺘﺒﺤﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﻤﺮ
ﺑﻬﺎ ﻛﻤﺎ ﺟﺎﺀﺕ ﻭﻻ ﻳﺒﺤﺚ ﻋﻨﻬﺎ ﻭﻻ
ﻳﺘﻜﻠﻢ ﻓﻴﻬﺎ ﻷﻧﻪ ﻻ ﻳﺄﻣﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻗﻮﻉ
ﻓﻲ ﻭﺭﻃﺔ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺭﺍﺳﺨﺎ
ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻌﺘﻘﺪ ﻓﻲ
ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ، ﻭﺃﻧﻪ
ﻻ ﻳﺤﻮﻳﻪ ﻣﻜﺎﻥ ﻭﻻ ﻳﺠﺮﻱ ﻋﻠﻴﻪ ﺯﻣﺎﻥ،
ﻣﻨﺰﻩ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺪﻭﺩ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺎﺕ ﻣﺴﺘﻐﻦ
ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭﺍﻟﺠﻬﺎﺕ، ﻭﻳﺘﺨﻠﺺ ﻣﻦ
ﺍﻟﻤﻬﺎﻟﻚ ﻭﺍﻟﺸﺒﻬﺎﺔ
(ﺍﻟﻔﻘﻪ ﺍﻷﻛﺒﺮ، ﺹ13)

Ini termasuk ayat mutasyâbihât.
Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan
ayat2 yang semacam dengannya bagi orang yang
tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar
mengimaninya dan tidak secara mendetail--
membahasnya dan membicarakannya.
Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini Dia tidak akan aman untuk jatuh dalam
kesesatan tasybîh.
Kewajiban atas orang ini dan semua orang Islam-- adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah
kami sebutkan di atas.
Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagiNya waktu.
Dia Maha Suci dari batasan2 (bentuk) dan segala
penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah.
Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan.
(al-Fiqh al-Akbar, h.13).
Secara panjang lebar dalam kitab yang sama, Imam asy-Syafi’i membahas bahwa adanya batasan (bentuk) dan penghabisan adalah sesuatu yang mustahil bagi Allah.
Karena pengertian batasan (al-hadd; bentuk) adalah ujung dari sesuatu dan penghabisannya.
Dalil bagi kemustahilan hal ini bagi Allah adalah bahwa Allah ada tanpa permulaan dan tanpa bentuk, maka demikian pula Dia tetap ada tanpa penghabisan dan tanpa bentuk.
Karena setiap sesuatu yang memiliki bentuk dan penghabisan secara logika dapat dibenarkan bila sesuatu tersebut menerima tambahan dan pengurangan, juga dapat dibenarkan adanya sesuatu yang lain yang serupa dengannya. Kemudian dari pada itu “sesuatu” yang demikian ini, secara logika juga harus membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam bentuk dan batasan tersebut, dan ini jelas merupakan tanda-tanda makhluk yang nyata mustahil bagi Allah

Menurut Ibnu AlJauzy didlm kitab Daf`u Syubhatu AlTasybih, kesalahan kelompok musyabihhah mujassimah wahabi salafy dlm memahami sifat khabariyah.
Seperti tentang istiwa. disebabkan karena.

1. Mereka menamakan khabar-khabar dgn khabar sifat, padahal realitanya hanyalah sebagai idhafat (penyandaran).
Secara kaidah dijelaskan bahwa tidak semua idhafah bermakna sifat.
Perhatikanlah Allah berfirman :

ونفخت فيه من روحى

“Aku meniupkan kepadanya ruhKu”

Di sini jelas bahwa ada idhafah Allah dgn ruh.
Akan tetapi tidak ada yg mengatakan bahwa Allah memiliki sifat ruh.

2. Mereka menyatakan bahwa hadits-hadits yg diriwayatkan adalah hadits mutasyabihat, yg tidak diketahui makna dan maksudnya kecuali oleh Allah. Namun kemudian mereka menafsirkannya dgn makna yg dzhahir! Sangat mengherankan sekali, hal yg tidak diketahui kecuali oleh Allah, akan tetapi zhahir bagi mereka! Bukankah makna zhahir dari kalimat استواء (bersemayam) kecuali bermakna القعود (duduk) ?!
& kalimat النزول (turun) tidak dipahami,
kecuali bermakna الانتقال (perpindahan).

3. Mereka kemudian menetapkan pelbagai sifat bagi Allah, sedangkan sifat yg layak bagi Allah tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil yg layak untuk DZat Allah, yg bersifat qath`iy.

4. Di dalam masalah istbat (mentapkan sifat), mereka tidak bisa membedakan, bahwa khabar ada yg bersifat khabar masyhur seperti:

ينزل تعالى الى سماء الدنيا

Allah turun ke langit dunia

Dan ada khabar yg tidak sahih, seperti: hadits
رأيت ربى فى أحسن صورة .

Aku melihat Tuhanku pada sebaik-baik bentuk.

Akan tetapi mereka justru menetapkan sifat bagi Allah dgn hadits masyhur dan hadits yg tidak shohih ini!

5. Mereka tidak bisa membedakan antara hadits yg marfu` (bersambungan sanadz) kepada Nabi Muhammad SAW ., & hadits yg mauquf (terputus sanad hanya sampai) kepada sahabat dan tabi`in, namun mereka menetapkan sifat dgn kedua hadits tersebut.

6. Mereka mentakwil sebagian lafaz pada tempat-tempat tertentu, seperti hadits:

ومن أتانى يمشى اتيته هرولة

Dan barangsiapa yg mendatangi Ku dgn berjalan, Aku mendatanginya dgn berlari.

Mereka mengatakan bahwa hadits ini adalah untuk menunjukkan makna Allah memberikan nikmat. Anehnya mereka tidak melakukan takwil pada tempat yg lain?!

7. Mereka memahami hadits-hadits berdasarkan pemahaman indrawi, oleh karena itu mereka berani mengatakan.
Allah turun dgn zatNya & berpindah pindah dari suatu tempat ke tempat yg lain”, kemudian mereka mengatakan “bukan sebagaimana yg difikirkan!” Mereka justru sudah duluan memikirkan & membuat bingung orang2 yg mendengar pernyataan mereka serta melumpuhkan indra dan akal mereka.

PERBEDA'AN IMAM ABU YA'LA DAN ABU YA'LA MUJASSIMAH <WAHABI>

PERBEDAAN ABU YA'LA AHLUSSUNAH DAN ABU YA'LA MUJASSIMAH

Ada dua orang bernama Abu Ya'la, yang pertama Abu Ya'la ahli hadits dari golongan ahlussunah, dan kedua Abu Ya'la dari golongan mujassimah (wahabi)

Abu Ya'la Pertama (Ahlussunah):

Nama: Abu Ya’la ahli hadits bernama; Ahmad bin Ali bin al Mutsanni bin Yahya bin Isa al Maushiliy, penulis kitab Musnad (Dikenal dengan kitab Musnad Abi Ya’la al Maushili), lahir tahun 210 H, wafat tahun 307 H (satu pendapat mengatakan wafat tahun 306 H).

Guru-guru: Di antaranya Imam-imam Ahli hadits terkemuka berikut ini; Ali bin al Madini, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yahya bin Sa’id al Qaththan, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan lainnya.

Murid-murid: Di antaranya Imam-imam ahli hadits terkemuka berikut ini; an Nasa’i, Ibnu Adiy, Abu Hatim, Abu asy-Syaikh, Abu Bakr bin al Muqri’, ath-Thabarani, dan lainnya.

Abu Ya'la Ke Dua (Mujassimah/Wahabi):

Nama: Muhammad bin al Husain bin Muhammad bin Khalaf bin Ahmad al Baghdadi al Hanbali, dikenal dengan sebutan al Qadli Abu Ya’la al Hanbali. Lahir tahun 380 H, wafat 458 H.

Al Qadli Abu Ya’la ini dikenal sebagai orang yang menyebarkan faham tasybih, bahkan salah seorang yang paling bertanggungjawab atas kerusakan Madzhab Hanbali. Orang inilah yang telah “menyuntikan penyakit” akidah tasybih di dalam madzhab Hanbali, dia banyak menuliskan akidah tasybih lalu dengan BOHONG BESAR ia mengatakan bahwa itu semua adalah aqidah Imam Ahmad bin Hanbal.

Imam al Hafizh Ibn al Jawzi (w 597 H) berkata:

Aku melihat ada beberapa orang dalam madzhab Hanbali ini yang berbicara dalam masalah aqidah dengan pemahaman-pemahaman yang ngawur. Ada tiga orang yang menulis karya terkait dengan masalah ini, yaitu; Abu Abdillah bin Hamid, al-Qadli Abu Ya’la (murid Abu Abdillah bin Hamid), dan Ibn az Zaghuni. Mereka semua telah menulis kitab-kitab yang telah merusak madzhab Hanbali, bahkan karena itu aku melihat mereka telah turun ke derajat orang-orang yang sangat awam. Mereka memahami sifat-sifat Allah secara indrawi, misalkan, mereka mendapati teks hadits “Innallah Khalaqa Adam ‘Ala Shuratih”, lalu mereka menetapkan adanya “Shurah” (bentuk) bagi Allah. Lalu mereka juga menambahkan “al-Wajh” (muka) bagi Dzat Allah, dua mata, mulut, bibir, gusi, sinar bagi wajah-Nya, dua tangan, jari-jari, telapak tangan, jari kelingking, jari jempol, dada, paha, dua betis, dua kaki, (Daf’u Syubah at Tasybih Bi Akaff at-Tanzih, h. 7-8)
Allah ada tanpa tempat dan arah adalah aqidah salaf yang lurus.


Keutamaan sholawat dan faidahnya


من صل علي مرة صل ا لله عليه بهاعشر

Barang siapa membaca sholawat untukKu sekali, maka Allah akan memberi Rohmat kepada orang itu lipat sepuluh kali.

اللهـــــم صل على سيـــــدنا محمـــــــد
صلاة الرضاو ارض عن اصحابه الرضا الرضا

Ya Allah wahai Tuhanku, berikanlah kesejahteraan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, kesejahteraan yg diridloi dan berilah keridloaan kepada shohabat beliau, ridloilah ridloilah.......

إن اللـه وملائكــته يصلــون على النبــى.
ياايهاالدين امنو اصلــوعليه و سلمو اتسلما

Sesungguhnya Allah dan Malaikat MalaikatNya bersholawat untuk Nabi.
Hai orang orang yg beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadaNya.
( Al-Ahzaab : 56).

SHOLAWAT SULTHON
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ رَحْمَةِ الله

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ فَضْلِ اللهِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد بِعَدَدِ خَلْقِ اللهِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَا فِى عِلْمِ اللهِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كَرَمِ اللهِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ حُرُوْفِ كَلاَمِ اللهِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كَلِمَاتِ اللهِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ قَطْرِ اْلاَمْطَارِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ وَرَقِ اْلاَشْجَارِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ رَمْلِ اْلقِفَارِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ اْلحُبُوبِ وَ اْلثِمَارِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَا اَظْلَمَ عَلَيْهِ اللَّيْلِ وَ اَشْرَقَ عَلَيْهِ النَّهَارِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ صَلَّ عَلَيْهِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ لَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ اَنْفَاسِ اْلخَلْقِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ لُجُُوْمِ السَمَوَاتَََِ

اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد بِعَدَدِ كُلٍَّ شَىْءٍ فِى الدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ

وَصَلَوَاتُ اللهِ وَ مَلاَءِكَتَهُ وَ اَنْبِيَاءِهِ وَ رُسُلِهِ وَ جَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلَى سَيِّدِ اْلمُرْسَلِيْنَ وَ اِمَامِ اْلمُتَّقِيْنَ

وَ قَاءِدِ غُرِّ اْلمُحَجِّلِيْنَ وَ شَفِيْعِ اْلمُذْنِبِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ اصْحَابِهِ وَ اَزْوَاجِهِ

وَ ذُرِّيَتِهِ وَ اَهْلِ بَيْتِهِ وَ اْلاَءِمَّةِ اْلمَضِيِّيْنَ وَ اْلمَشَاءِخِ اْلمُتَقَدِّمِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ

وَ اَهْلِ طَاعَتِكَ اَجْمَعِيْنَ مِنْ اَهْلِ السَّمَوَاتِ وَ اْلاَرَضِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

وَ يَا اَكْرَمَ اْلاَكْرَمِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ وَ صَلَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلِّمْ



Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah rahmatnya Allah.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah keutamaan dari Allah.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah ciptaan Allah.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah apa-apa yang ada dalam pengetahuan Allah.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah kemuliaan dari Allah.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah huruf Kalamullah (Kitab-Kitab Allah).

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah kalimat Allah.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak tetesan air hujan.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah daun-daun pepohonan.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah butir pasir di gurun.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah biji-bijian dan buah-buahan.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah yang dinaungi kegelapan malam dan diterangi oleh benderang siang.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah orang yang telah bershalawat kepadanya.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah orang yang belum bershalawat kepadanya.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah napas-napas makhluk ciptaan.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah apa yang ada di seluruh langit.

Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah tiap-tiap sesuatu yang ada di dalam dunia dan akhirat.

Dan segenap shalawat dari Allah beserta para malaikat-Nya, dan para Nabi-Nya, dan para Rasul-Nya, dan seluruh ciptaan-Nya, semoga tercurah atas junjungan para Rasul, pemimpin orang-orang yang bertaqwa, pemuka para ahli surga, pemberi syafa’at orang-orang yang berdosa, Nabi Muhammad dan juga atas keluarganya, para sahabatnya, istri-istrinya, keturunannya, ahli baitnya, para pemimpin yang telah lampau, para guru yang terdahulu, para syuhada dan orang-orang soleh, dan yang senantiasa taat kepada Allah seluruhnya, dari penghuni bumi dan langit, dengan rahmat-Mu, wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan Engkau Yang Maha Mulia dari semua yang mulia, segala pujian bagi Allah Tuhan alam semesta.
Dan shalawat serta salam atas Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya.”

اللهم انت ربي لااله الا انت خلقتني واناعبدك واناعل عهدك و وعدك مااستطعت اعودبك من شرماصنعت وابوءبدنبي فانه لايفرالدنوب
الا انت

Allahumma Anta Robbii laa ilaaha illaa anta kholaqtanii wa anaa 'abduka wa anaa 'alaa 'ahdika wa wa'dika matatho'atu a'uudzubika min syarrimaa shona'tu wa abuu-u bidzanbii faghfirlii fa-innahu laa yaghfirudz dzunuuba ilaa anta.

Wahai Tuhanku, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau.
Engkau yg telah. menjadikan aku dan aku adalah hambaMu dan aku adalah atas ketentuanMu dan janjiMu semampu mungkin aku kerjakan.
aku berlindung kepadaMu dari segala kejahatan yg telah Engkau jadikan, aku mengakui ni'matMu yg telah Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui dosaku maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yg dapat mengampuni dosa2 selain hanya Engkau.....

Istighfar taubatan nasyuha, bacalah setiap makhtubah/setiap ba'da sholat fardlu 11x.
اشتغفر اللّه العظيم الّذي لا إله إلاّ هو الحيّ القيّوم وأتوب إليـه • توبةعبدظالم لايملك لنفسه ضراو لانفعاو لاموتاو لاحياةو لانشروا

ini tex lathin untuk hp yg tidak mendukung ketikan 'arob......

Astaghfirullaahal 'azhim, Alladzii laaa ilaaha illaa huwal hayyul qoiyuumu wa atuubu ilaih, taubata 'abdin dlolimiin layamliku linafsihi dhorrow walaa naf'an wallaa mautan wallaa khayatan wallaa nusyuur.

Aku mohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, Dzat yg tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri. aku bertaubat kepadaNya selaku taubatnya seorang hamba yg dlolim, yg tidak mempunyai daya upaya terhadap untuk berbuat madlorot, manfa'at untuk mati dan hidup dan serta pula untuk bangkit kembali.


BAROKAH



كان النبي صلى الله عليه وسلم يَدْخُلُ بَيْتَ أُمِّ سُلَيْمٍ فَيَنَامُ على فِرَاشِهَا وَلَيْسَتْ فيه قال فَجَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَامَ على فِرَاشِهَا فَأُتِيَتْ فَقِيلَ لها هذا النبي صلى الله عليه وسلم نَامَ في بَيْتِكِ على فِرَاشِكِ قال فَجَاءَتْ وقد عَرِقَ وَاسْتَنْقَعَ عَرَقُهُ على قِطْعَةِ أَدِيمٍ على الْفِرَاشِ فَفَتَحَتْ عَتِيدَتَهَا فَجَعَلَتْ تُنَشِّفُ ذلك الْعَرَقَ فَتَعْصِرُهُ في قَوَارِيرِهَا فَفَزِعَ النبي صلى الله عليه وسلم فقال ما تَصْنَعِينَ يا أُمَّ سُلَيْمٍ فقالت يا رَسُولَ اللَّهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا قال أَصَبْتِ ،رواه مسلم واحمد

Rasulullah SAW masuk rumah Ummi Sulaim dan tidur di ranjangnya sewaktu Ummi Sulaim tidak ada di rumah, lalu di hari yang lain Beliau datang lagi, lalu Ummi Sulaim di beri kabar bahwa Rasulullah tidur di rumahnya di ranjangnya. Maka datanglah Ummi Sulaim dan mendapati Nabi berkeringat hingga mengumpul di alas ranjang yang terbuat dari kulit, lalu Ummi Sulaim membuka kotaknya dan mengelap keringat Nabi lalu memerasnya dan memasukkan keringat beliau ke dalam botol, Nabi pun terbangun:
“Apa yang kau perbuat wahai Ummi Sulaim”, tanyanya.” “Ya Rasulullah, kami mengharapkan berkahnya untuk anak-anak kami,”
jawab Ummi Sulaim. Rasulullah berkata: “Engkau benar”
(H.R. Muslim dan Ahmad)

عن أَنَسٍ قال لقد رأيت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالْحَلَّاقُ يَحْلِقُهُ وَأَطَافَ بِهِ أَصْحَابُهُ فما يُرِيدُونَ أَنْ تَقَعَ شَعْرَةٌ إلا في يَدِ رَجُلٍ ، رواه مسلم وكذا رواه احمد والبيهقي في السنن الكبرى

Aku melihat tukang cukur sedang mencukur Rasulullah SAW dan para sahabat mengitarinya. Tidaklah mereka kehendaki satu helai pun dari rambut beliau terjatuh kecuali telah berada di tangan seseorang.”
(H.R Muslim, Ahmad dan Baihaqi)

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي قُبَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ وَرَأَيْتُ بِلَالًا
أَخَذَ وَضُوءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ يَبْتَدِرُونَ الْوَضُوءَ فَمَنْ أَصَابَ مِنْهُ شَيْئًا تَمَسَّحَ بِهِ وَمَنْ لَمْ يُصِبْ مِنْهُ شَيْئًا أَخَذَ مِنْ بَلَلِ يَدِ صَاحِبِهِ ، رواه البخاري ومسلم واحمد

Aku mendatangi Rasulullah sewaktu beliau ada di kubah hamra’ dari Adam, aku juga melihat Bilal membawa air bekas wudhu’ Rasulullah dan orang-orang berebut mendapatkannya. Orang yang mendapatkannya air bekas wudhu’ itu mengusapkannya ke tubuhnya, sedangkan yang tidak mendapatkannya, mengambil dari tangan temannya yang basah”
(H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Hajjaj ibn Hassan berkata: “Kami berada di rumah Anas dan dia membawa cangkir Nabi SAW dari suatu kantong hitam. Dia (Anas) menyuruh agar cangkir itu diisi air dan kami minum air dari situ dan menuangkan sedikit ke atas kepala kami dan juga ke muka kami dan mengirimkan solawat kepada Nabi SAW.”
[Hadits riwayat Ahmad, dan Ibn Katsir].
‘Asim berkata: “Aku melihat cangkir itu dan aku minum pula darinya.”
[Hadits Riwayat Bukhari]

abir berkata: “Nabi SAW datang setelah ‘Abdullah bin Ubay dikuburkan dalam makamnya. Beliau SAW memerintahkan agar mayatnya diangkat lagi. Beliau SAW menaruh kedua tangannya pada kedua lutut ‘Abdullah, bernafas atasnya dan mencampurnya dengan air liurnya serta mengenakan pakaian beliau padanya.”
[Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Sahihnya Bab al-Libaas pernah bahwa Asma’ binti Abu Bakr pernah menunjukkan pada Abdullah, bekas budaknya jubah Rasulullah yang terbuat dari kain Persia dengan kain leher dari kain brokat, dan lengannya juga dibordir dengan kain brokat seraya berkata
“Ini adalah jubah Rasulullah SAW yang disimpan ‘Aisyah hingga wafatnya lalu aku menyimpannya. Nabi SAW dulu biasa memakainya, dan kami mencucinya untuk orang yang sakit hingga mereka dapat sembuh karenanya.”

Imam Nawawi mengomentari hadits ini dalam Syarah Sahih Muslim, karya beliau, juz 37 bab 2,

وفي هذا الحديث دليل على استحباب التبرك بآثار الصالحين وثيابهم

Hadits ini adalah bukti dianjurkannya mencari barokah lewat bekas dari orang-orang saleh dan pakaian mereka”

من صل علي مرة صل ا لله عليه بهاعشر

Barang siapa membaca sholawat untukKu sekali, maka Allah akan memberi Rohmat kepada orang itu lipat sepuluh kali.

اللهـــــم صل على سيـــــدنا محمـــــــد
صلاة الرضاو ارض عن اصحابه الرضا الرضا

Ya Allah wahai Tuhanku, berikanlah kesejahteraan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, kesejahteraan yg diridloi dan berilah keridloaan kepada shohabat beliau, ridloilah ridloilah.......

إن اللـه وملائكــته يصلــون على النبــى.
ياايهاالدين امنو اصلــوعليه و سلمو اتسلما

Sesungguhnya Allah dan Malaikat MalaikatNya bersholawat untuk Nabi.
Hai orang orang yg beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadaNya.
( Al-Ahzaab : 56).


Keutamaan bulan rajab


KEUTAMAAN BULAN RAJAB
Kitab Nuzhatul Majaalis Lil Imam Abdur Rahman Ash-Shafurii Asy-Syaafi'i

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ألا إن رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي فمن صام يوما من رجب إيمانا واحتسابا استوجب رضوان الله الأكبر واسكن الفردوس الأعلى

Baginda Nabi SAW bersabda :
Perhatikanlah, sesungguhnya Rojab adalah bulan Allah SWT, Sya’ban adalah bulanku dan Ramadlan adalah bulan ummatku. Barang siapa puasa satu hari saja di bulan Rajab dengan penuh keimanan dan benar-benar ikhlas mengharapkan keridloan Allah SWT, maka sesungguhnya Allah SWT akan ridlo kepadanya dengan keridloan yang agung dan menempatkannya di sorga Firdaus yang tinggi
.
عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : فضل رجب على سائر الشهور كفضل القرآن على سائر الكلام

Baginda Nabi SAW bersabda :
Keutamaan bulan Rajab dibanding bulan lainnya adalah seperti keutamaan Al-Qur’an dibanding perkataan lainnya

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من صام يوما من رجب فكأنه صام أربعين سنة

Baginda Nabi SAW bersabda :
Barang siapa yang puasa sehari saja bulan Rajab maka dia mendapati keutamaan puasa 40 tahun
Jika puasa satu hari saja mempunyai keistimewaan yang luar biasa tersebut, apalagi jika ditambah. Maka bagi yang ingin mengharapkan pahala agung, diperbolehkan untuk menambah puasa lebih dari satu hari
.
عن ثوبان رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم مر على قبور فبكى فقال يا ثوبان هؤلاء يعذبون في قبورهم فدعوت الله أن يخفف عنهم يا ثوبان لو صام هؤلاء يوما من رجب وقاموا ليلة ما عذبوا فقلت يا رسول الله بصوم يوم وقيام ليلة يمنع عذاب القبر قال نعم والذي نفسي بيده ما من مسلم ولا مسلمة يصوم يوما من رجب ويقوم ليلة إلا كتب الله له عبادة سنة صوم نهارها وقيام ليلتها

Baginda Nabi SAW bersabda :
Dari shahabat Tsauban RA bahwa suatu ketika Baginda Nabi Muhammad SAW melewati kuburan, kemudian beliau menangis dan bersabda :
Tasuban, sesungguhnya mereka penghuni kuburan sedang disiksa, aku kemudian memohon kepada Allah SWT agar meringankan siksa mereka. Andaikan dulu (semasa hidupnya) mereka pernah puasa Rajab sehari saja dan qiyamul lail (sholat malam di bulan Rajab) semalam saja, niscaya mereka tidak akan disiksa.

Aku (Tasuban) bertanya : Wahai Rasuulullah, apakah dengan puasa sehari dan qiyamullail semalam saja mereka selamat dari siksa kubur ?

Beliau SAW bersabda : Benar, demi Allah SWT yang diriku dalam kekuasaan-Nya. Tiada seorang muslim laki-laki maupun perempuan yang puasa Rajab sehari dan qiyamul lail semalam kecuali Allah SWT tetapkan untuknya ibadah setahun penuh dengan selalu berpuasa dan qiyamul lail
.
قال علي رضي الله عنه : صوم ثالث عشر رجب كصيام ثلاثة آلاف سنة وصوم أربع عشر رجب كصيام عشرة آلاف سنة وصوم عشرين كصيام مائة ألف عام

Sayyidina Ali KW berkata :
Pahala puasa tanggal 13 Rajab adalah seperti puasa tiga ribu tahun. Pahala puasa pada tanggal 14 Rajab adalah seperti puasa sepuluh ribu tahun. Dan pahala puasa pada tanggal 20 Rajab adalah seperti puasa seratus ribu tahun.

من صام يوم السابع والعشرين من رجب وتصدق فيه كتب الله له بصيامه ألف حسنة وعتق ألف رقبة

Baginda Nabi SAW bersabda :
Barang siapa puasa pada tanggal 27 Rajab dan bersedekah, maka Allah SWT memberikan pahala seribu kebaikan untuknya dan memerdekaan seribu budak.

وجاء في الخبر مرفوعا من صلى ليلة السابع والعشرين من رجب ركعتين يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب وقل هو الله أحد عشرين مرة فإذا فرغ صلى على النبي صلى الله عليه وسلم عشر مرات ثم يقول:

Baginda Nabi SAW bersabda :
Barang siapa pada malam 27 Rajab sholat dua rekaat. Setiap rekaat sesudah fatihah membaca Surat Al-Ikhlash 20 kali, dan sesudah sholat membaca sholawat 10 kali, kemudian membaca do’a

اللهم إني أسألك بمشاهدة أسرار المحبين، وبالخلوة التي خصصت بها سيد المرسلين حين أسريت به ليلة السابع والعشرين أن ترحم قلبي الحزين وتجيب دعوتي يا أكرم الأكرمين
فإن الله يجيب دعاءه ويرجو نداءه ويحيي قلبه يوم تموت القلوب

Maka sesungguhnya Allah SWT mengabulkan do’anya,
Dan menghidupkan hatinya di saat orang-orang dilanda ketakukan sampai mereka mati hatinya

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : أكرموا رجب يكرمكم الله ألف كرامة يوم القيامة ومن اغتسل أول رجب وأوسطه وآخره خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه

Baginda Nabi SAW bersabda :
Muliakanlah bulan Rajab (dengan tidak melakukan masiat serta memperbanyaki thoat), niscaya Allah SWT akan memuliakan kalian dengan 1.000 kemuliaan besok pada hari kiamat. Dan barang siapa mandi (taubat) pada permulaan bulan Rajab, dan pada pertengahan serta akhir bulan Rajab, niscaya diampuni dosanya bagaikan bayi yang baru terlahir ke dunia

DZIKIR DAN BACAAN DI BULAN RAJAB

قال الشيخ عبد القادر الكيلاني رضي الله عنه في الغنية يقال في أول ليلة من رجب :
Bahwa syaikh Abdul Qadir Al-Jailaniy RA dalam kitab Al-Gunyah mengatakan, bahwa untuk do’a pada malem Rajab, maka berdo’a

إلهي تعرض إليك في هذه الليلة المتعرضون . وقصدك القاصدون . وأمل معروفك وفضلك الطالبون . ولك في هذه الليلة نفحات ومواهب وعطايا تمن بها على من تشاء من عبادك . وتمنعها عمن لم تسبق له منك عناية . وها أنا عبدك الفقير إليك المؤمل فضلك ومعروفك . فجد علي بفضلك ومعروفك يا رب العالمين

Ya Allah Tuhanku, pada malam ini, hamba-Mu yang mengharapkan rahmat-Mu beribadah pada-Mu. Hamba-Mu yang menuju pada-Mu melakukan amal untuk-Mu. Hamba-Mu yang mengharapkan-Mu benar-benar menginginkan kebaikan dan anugerah-Mu. Ya Allah, di mala mini, hanya bagi-Mu semata segala anugerah dan pemberian rahmat kasih sayang yang Engkau berikan pada hamba-Mu yang Engkau kehendaki. Dan tidak Engkau berikan pada orang yang telah Engkau kehendaki celaka. Ya Allah, aku hamba-Mu yang senantiasa faqir dan mengharapkan anugerah dan kebaikan-Mu. Maka limpahkanlah kepada hamba-Mu yang miskin ini anugerah dan kebaikan-Mu.

عن النبي صلى الله عليه وسلم من قال كل يوم من العشر الأول من رجب : سبحان الحي القيوم مائة مرة وكل يوم من العشرة الثاني مائة مرة : سبحان الله الأحد الصمد ومن العشر الثالث مائة مرة : سبحان الله الرءوف لم يصف الواصفون ما يعطى من الثواب

Baginda Nabi SAW bersabda :
Barang siapa pada bulan Rajab, setiap hari mulai tanggal 1 sampai 10 mengucapkan 100 kali bacaan :

سبحان الحي القيوم

Maha Suci Allah Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Berdikari..
setiap hari mulai tanggal 11 sampai 20 mengucapkan 100 kali bacaan :

سبحان الله الأحد الصمد

Maha Suci Allah Dzat Yang Maha Esa Dzat Yang Maha Mencukupi segala kebutuhan hamba-Nya.
setiap hari mulai tanggal 21 sampai akhir Rajab mengucapkan 100 kali bacaan :

سبحان الله الرءوف

Maha Suci Allah Dzat Yang Maha Belas kasih sayang
Maka akan diberi pahala agung yang tidak bisa disifati/diketahui oleh siapapun

سئل النبي صلى الله عليه وسلم عمن عجز عن صيام رجب ما يصنع قال يتصدق كل يوم برغيف قيل فإن لم يجده قال يقول سبحان من لا ينبغي التسبيح إلا له سبحان الأعز الأكرم سبحان من له العز وهو له أهل

Baginda Nabi SAW ditanya tentang orang yang tidak mampu puasa Rajab, apakah yang dia lakukan sebagai gantinya ?
Maka Beliau SAW menjawab : “Hendaknya bersedekah setiap hari dengan sepotong roti”. Kemudian ditanyakan lagi bagaimana jika tidak mampu setiap hari bersedekah sepotong roti. ?
Maka Beliau SAW menjawab : “Hendaknya dia mengucapkan tasbih…

سبحان من لا ينبغي التسبيح إلا له سبحان الأعز الأكرم سبحان من له العز وهو له أهل

Maha Suci Allah SWT Dzat Yang tiada pantas tasbih kecuali kepada-Nya. Maha Suci Allah SWT Dzat Yang Maha Mulia dzat Yang Maha Dermawan. Maha Suci Allah SWT Dzat Yang kemuliaan hanya bagi-Nya semata, dan Dia-lah yang berhak memilikinya.

عن النبي صلى الله عليه وسلم من قال في رجب وشعبان ورمضان فيما بين الظهر والعصر أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه توبة عبد ظالم لا يملك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا، أوحى الله تعالى إلى الملكين أحرقوا كتاب سيئاته من ديوان صحيفته

Baginda Nabi SAW bersabda :
Barang siapa yang pada bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadlan, antara waktu dhuhur dan Ashar senantiasa membaca istighfar :

أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه توبة عبد ظالم لا يملك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا

Aku mmohon ampunan kepada Allah SWT Dzat Yang Maha Agung Dzat Yang tiada Tuhan melinkan Dia, Dzat Yang Maha Hidup, Dzat Yang Maha Berdikari. Dan aku taubat (kmbali) kepada-Nya dengan taubat yang sesungguhnya sebagai hamba yang dholim (aniaya), hamba yang tiada memiliki manfaat ataupun madlorot pada dirinya, juga tiada memiliki kehidupan, kematian dan kebangktan untuk dirinya..
Maka Allah SWT printahkan kepada malaikat pencatat amal agar memusnahkan catatan amal jeleknya
.
KEUTAMAAN SEDEKAH DI BULAN RAJAB
عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من تصدق في رجب باعده الله من النار كمقدار غراب طار فرخا حتى مات هرما

Baginda Nabi SAW bersabda :
Barang siapa yang sedekah pada bulan Rajab maka Allah SWT jauhkan dia dari neraka sejauh jarak terbang seekor burung elang yang terbang dari kecil hingga mati tua.

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من فرج عن مؤمن كربة في رجب أعطاه الله في الفردوس قصرا مد بصره

Baginda Nabi SAW bersabda :
Barang siapa melapangkan ksulitan seorang mukmin di bulan Rajab, maka Allah SWT berikan istana di sorga Firdaus seluas pandangan matanya.

Penjelasan mengenai Isro' dan Mi'roj

قال العلامة الشيخ محمد نووى الشافعي البنتني الجاوى في كتابه نور الظلام صحيفة ٤٢

و ليس الله سبحانه و تعالى فى مكان و لا جهة تنزه الله عن ذلك و إنما المكان منسوب الى النبى صلى الله عليه و سلم قال صلى الله عليه و سلم لا تفضلوني على يونس بن متى أى لا تظنوا أني أقرب الى الله من يونس بن متى حيث ارتقى بي فوق السموات السبع و يونس في قعر البحر في بطن الحوت فكلانا بالنسبة للقرب منه على حد سواء

Al-'Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nawawiy Asy-Syafi'iy Al-Bantaniy Al-Jawiy dalam kitabnya " Nur Adh-Dholam" syarah 'Aqidatul 'Awam halaman 42 baris 3-6 mengatakan:

Allah Ta'ala tidak berada di suatu tempat maupun arah , Maha suci Allah dari yang demikian (bertempat atau berarah) , tempat hanya dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Sholla Allahu 'alaihi wa sallam. Rosulullah sholla Allahu 'alaihi wasallam bersabda : Janganlah kamu menganggap aku lebih utama daipada Nabi Yunus bin Matta , maksudnya : Janganlah kamu berprasangka bahwa aku lebih dekat kepada Allah daripada Nabi Yunus hanya karena Allah mengangkat aku ke atas langit yang tujuh sedangkan Nabi Yunus berada didasar lautan didalam ikan , masing-masing dari kami berdua nisbat kedekatan dari Allah ada pada batasan yang sama.

Ini menunjukkan bahwa Allah tidak menempati langit atau 'arsy atau suatu tempat karena Allah ada tanpa tempat dan arah.

Shahabat 'Ali bin Abu tholib radliya Allahu 'anh ditanya:

Dimana Tuhan kita sebelum menciptakan 'arsy?
Shohabat sayyidin 'Ali : Dimana itu menanyakan tempat , Allah ada tanpa tempat dan zaman , Ia tidak mengalami perubahan .

عن علي بن أبي طالب كرّم الله وجهه أنه سُئل أين كان ربنا قبل أن يخلق العرش ؟ فقال رضي الله عنه :أين سؤال عن المكان ،وكان الله تعالى ولا مكان ولا زمان ،وهو الآن كما كان

Sayyid Ja'far Ash-Shodiq berkata: Tauhid itu tiga perbuatan :
1. Mengenal Allah bahwa Allah tidak dari sesuatu
2. Mengenal Allah bahwa Allah tidak didalam sesuatu
3. Mengenal Allah bahwa Allah tidak diatas sesuatu

Barang siapa mensifati Allah bahwa Allah dari sesuatu maka berarti mensiafati Allah bahwa Allah adalah makhluk , maka ia kafir

Barang siapa mensifati Allah bahwa Allah didalam sesuatu maka berarti mensifati Allah bahwa Allah adalah mahdud / sesuatu yang dibatasi , maka ia kafir

Barang siapa mensifati Allah bahwa Allah diatas sesuatu maka berarti mensifati Allah bahwa Allah membutuhkan , maka ia kafir

وعن جعفر الصادق رضي الله عنه أنه قال :التوحيد ثلاثة أحرف أن تعرف أنه ليس من شىء ،ولا في شىء ، ولا على شىء
لأنّ مَن وصَفه أنه مِن شىء فقد وصفه أنه مخلوق فيكفر
ومَن وصفه أنه في شىء فقد وصفه أنه محدود فيكفر
ومَن وصفه أنه على شىء،فقد وصفه أنه مُحتاج فيكفر

صفحة 52 من بحر الكلام للإمام أبي المعين النسفي (ميمون بن محمد المُتوفّى سنة 508 هجرية رضي الله عنه

قال الإمام عبدالقاهر البغدادي (429 هـ.) في كتابه الناسخ والمنسوخ إن من أثبت لله تعالى الحد أي المساحة والجهة والمكان، فهو كافر لا تؤكل ذبيحته.

Imam 'Abdul Qohir Al-Baghdadiy (429 H) berkata: Sesungguhnya orang yang menetapkan bagi Allah batasan , arah dan tempat ialah kafir tidak halal dimakan sembelihannya

Setelah membaca beberapa artikel yang mudah ditemui pada banyak link di internet yang menyatakan bahwsanya puasa pada bulan Rajab tidak ada dasarnya, kami tergerak untuk melacak pendapat para ulama di kalangan madzahib al-Arba’ah yang note bene mereka adaah orang sholih dan lebih mengerti tentang syariat. Dan ternyata setelah kami lacak, para ulama di kalangan madzahib menyatkan bahwasanya puasa pada bulan Rjab adalah sunnah, kecuali para ulama dari kalangan madzhab Habilah yang menyatakan bahwa puasa satu bulan penuh pada bulan Rajab adalah makruh, meskipun kemakruhannya bisa dihilangkangkan dengan cara tertentu seperti keterangan yang akan kami sampaikan dibawah.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (التوبة: 36)

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (at-Taubah: 36)

Di dalam menafsiri ayat ini syaikh Ibnu Katsir menyampaikan sebuah hadits yang menyatakan bahwa Ayshur al-Hurum adalah; bulan Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab. Hadits tersebut adalah:

قال الإمام أحمد: حدثنا إسماعيل، أخبرنا أيوب، أخبرنا محمد بن سيرين، عن أبي بَكْرَة، أن النبي صلى الله عليه وسلم خطب في حجته، فقال: "ألا إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرًا، منها أربعة [حرم، ثلاثة] متواليات: ذو القعدة، وذو الحجة، والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان".

تفسير ابن كثير 4/144

Malikiyyah

Para ulama madzhab Malikiyyah menyatakan bahwasanya melakukan puasa di bulan Rajab adalah merupakan salah satu macam puasa yang disunnahkan. Ibarot yang menyatakan seperti itu adalah:

وهو يعدد الصوم المستحب : (والمحرم ورجب وشعبان) يعني : أنه يستحب صوم شهر المحرم وهو أول الشهور الحرم , ورجب وهو الشهر الفرد عن الأشهر الحرم.

شرح الخرشي على خليل 2/241

التنفل بالصوم مرغب فيه وكذلك , صوم يوم عاشوراء ورجب وشعبان ويوم عرفة والتروية وصوم يوم عرفة لغير الحاج أفضل منه للحاج.

مقدمة ابن أبي زيد مع اشرح لفواكه الدواني 2/ 272

و كذلك صوم شهر ( رجب ) مرغب فيه.

كفاية الطالب الرباني 2/407

(و) ندب صوم ( المحرم ورجب وشعبان ) وكذا بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذو القعدة والحجة.

شرح الدردير على خليل 1/513

Hanafiyyah

Ulama madzhab Hanafiyyah juga menyatakan bahwasanya puasa Rajab adalah sunnah. Ibarohnya adalah:

( المرغوبات من الصيام أنواع ) أولها صوم المحرم والثاني صوم رجب والثالث صوم شعبان وصوم عاشوراء.

الفتاوي الهندية 1/202


Syafi’iyyah

Ulama madzhab Syafi’iyyah juga menyatakan bahwasanya puasa di bulan Rajab adalah disunnahkan. Ibarot yang menyatakan demikian adalah:

قال أصحابنا : ومن الصوم المستحب صوم الأشهر الحرم , وهي ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب , وأفضلها المحرم , قال الروياني في البحر : أفضلها رجب , وهذا غلط ; لحديث أبي هريرة الذي سنذكره إن شاء الله تعالى { أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم.

المجموع شرح المهذب 6/439



( وأفضل الأشهر للصوم ) بعد رمضان الأشهر ( الحرم ) ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب

أسنى المطالب 1/433

أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم , وأفضلها المحرم لخبر مسلم { أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ثم رجب } خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم ثم باقيها ثم شعبان.

مغني المحتاج 2/187

اعلم أن أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم وأفضلها المحرم ثم رجب خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم ثم باقيها وظاهره الاستواء ثم شعبان.

نهاية المحتاج 3/211

Di dalam kitab al-Hawi Li al-Fatawa imam as-Suyuti menjelaskan tentang derajat hadits yang menyatakan tentang keutamaan puasa bulan Rajab. Beliau menjelaskan bahwasanya hadits-hadits tersebut bukan berstatus maudlu’ (palsu) tetapi hanya berstatus dlaif yang sehingga boleh diriwayatkan dalam rangka untuk fadhailul a’mal.

مسألة - في حديث أنس قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن في الجنة نهرا يقال له رجب ماؤه أبيض من اللبن وأحلى من العسل من صام يوما من رجب سقاه الله من ذلك النهر، وحديث أنس قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من صام من شهر حرام الخميس والجمعة والسبت كتب له عبادة سبعمائة سنة، وحديث ابن عباس قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من صام من رجب يوما كان كصيام شهر ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه أبواب الجحيم السبعة ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له أبواب الجنة الثمانية ومن صام منه عشرة أيام بدلت سيئاته حسنات هل هذه الأحاديث موضوعة وما الفرق بين الضعيف والغريب.



الجواب – ليست هذه الأحاديث بموضوعة بل هي من قسم الضعيف الذي تجوز روايته في الفضائل, أما الحديث الأول فأخرجه أبو الشيخ ابن حيان في كتاب الصيام, والأصبهاني, وابن شاهين – كلاهما في الترغيب – والبيهقي, وغيرهم قال الحافظ ابن حجر: ليس في اسناده من ينظر في حاله سوى منصور بن زائدة الأسدي وقد روي عنه جماعة لكن لم أر فيه تعديلا, وقد ذكره الذهبي في الميزان وضعفه بهذا الحديث. واما الحديث الثاني فأخرجه الطبراني, وأبو نعيم, وغيرهما من طرق بعضها بلفظ عبادة سنتين, قال ابن حجر: وهو أشبه ومخرجه أحسن وإسناد الحديث أمثل من الضعيف قريب من الحسن. أما الحديث الثالث فأخرجه البيهقى في فضائل الأوقات وغيره وله طرق وشواهد ضعيفة لا تثبت إلا أنه يرتقي عن كونه موضوعا. وأما الفرق بين الضعيف والغريب فإن بينهما عموما وخصوصا من وجه فقد يكون غريبا لا ضعيفا لصحة سنده أو حسنه, وقد يكون ضعيفا لا غريبا لتعدده إسناده وفقد شرط من شروط القبول كما هو مقرر في علم الحديث.

الحاوي الفتاوى للسيوطي 1/339

Hanabilah

Para ulama madzhab Habilah menyatakan bahwsanya menyendirikan berpuasa di bulan Rajab secara keseluruhan (satu bulan penuh) adalah makruh meskipun terdapat pendapat lain (qiil) yang menyatakan sunnah. Apabila menyela-nyelaninya dengan tidak puasa meski dengan satu hari atau dengan mengirinya dengan puasa pada bulan sebelum Rajab maka hukum kemakruhannya adalah hilang.

فصل : ويكره إفراد رجب بالصوم . قال أحمد : وإن صامه رجل , أفطر فيه يوما أو أياما , بقدر ما لا يصومه كله ... قال أحمد : من كان يصوم السنة صامه , وإلا فلا يصومه متواليا , يفطر فيه ولا يشبهه برمضان.

قال ابن قدامة في المغني 3/53


فصل : يكره إفراد رجب بالصوم نقل حنبل : يكره , ورواه عن عمر وابنه وأبي بكرة , قال أحمد : يروى فيه عن عمر أنه كان يضرب على صومه , وابن عباس قال : يصومه إلا يوما أو أياما.

الفروع لابن مفلح 3/118

( ويكره إفراد رجب بالصوم ) . هذا المذهب , وعليه الأصحاب , وقطع به كثير منهم . وهو من مفردات المذهب , وحكى الشيخ تقي الدين في تحريم إفراده وجهين . قال في الفروع : ولعله أخذه من كراهة أحمد.

تنبيه : مفهوم كلام المصنف : أنه لا يكره إفراد غير رجب بالصوم . وهو صحيح لا نزاع فيه . قال المجد : لا نعلم فيه خلافا.

فائدتان . إحداهما : تزول الكراهة بالفطر من رجب , ولو يوما , أو بصوم شهر آخر من السنة . قال في المجد : وإن لم يله

الثانية : قال في الفروع : لم يذكر أكثر الأصحاب استحباب صوم رجب وشعبان . واستحسنه ابن أبي موسى في الإرشاد

قال ابن الجوزي في كتاب أسباب الهداية : يستحب صوم الأشهر الحرم وشعبان كله , وهو ظاهر ما ذكره المجد في الأشهر الحرم , وجزم به في المستوعب , وقال : آكد شعبان يوم النصف , واستحب الآجري صوم شعبان , ولم يذكر غيره , وقال الشيخ تقي الدين : في مذهب أحمد وغيره نزاع . قيل : يستحب صوم رجب وشعبان , وقيل : يكره . يفطر ناذرهما بعض رجب.

قال المرداوي في الإنصاف 3/346

Hadits-hadits yang menunjukkan sunnahnya puasa Rajab diantaranya adalah:

عن أسامة بن زيد قال قلت : يا رسول الله لم أرك تصوم شهرا من الشهور ما تصوم من شعبان قال ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان

سنن النسائي 4/201

عن مجيبة الباهلية عن أبيها أو عمها أنه : أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم انطلق فأتاه بعد سنة وقد تغيرت حالته وهيئته فقال يا رسول الله أما تعرفني قال ومن أنت قال أنا الباهلي الذي جئتك عام الأول قال فما غيرك وقد كنت حسن الهيئة قال ما أكلت طعاما إلا بليل منذ فارقتك فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لم عذبت نفسك ثم قال صم شهر الصبر ويوما من كل شهر قال زدني فإن بي قوة قال صم يومين قال زدني قال صم ثلاثة أيام قال زدني قال صم من الحرم واترك صم من الحرم واترك صم من الحرم واترك وقال بأصابعه الثلاثة فضمها ثم أرسلها

سنن أبي داود 2/322

قوله صلى الله عليه وسلم : { صم من الحرم واترك } إنما أمره بالترك ; لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما ذكره في أول الحديث . فأما من لم يشق عليه فصوم جميعها فضيلة